Asap rokok tangan ketiga sama bahaya dengan perokok aktif dan pasif
![]() |
| Pixabay |
Penelitian baru pada tikus telah menemukan bahwa paparan asap rokok tangan ketiga (Thirdhand-smoke/THS), yang ditemukan di dalam rumah dan mobil serta pada pakaian dan rambut, dapat menyebabkan kerusakan pada hati dan otak dengan efek memburuk seiring berjalannya waktu.
Dilakukan oleh para ilmuwan di University of California, Riverside, Amerika Serikat, penelitian ini berfokus ke efek paparan THS pada tikus melalui penanda molekuler biologis (biomarker) yang ditemukan dalam serum, dan di jaringan hati dan otak.
Hasil THS dari asap yang dihembuskan dan asap dari ujung rokok yang terbakar masuk ke permukaan di rumah seperti perabotan, gorden, sarung bantal/kasur, dan karpet, bahkan di dalam mobil, dan pada pakaian sertarambut. Efek negatif paparan THS telah ditunjukkan pada tikus untuk memicu diabetes tipe 2, hiperaktif, kerusakan hati dan paru-paru, serta komplikasi dengan penyembuhan luka.
Tim memaparkan tikus dengan THS sampai durasi enam bulan. Mereka kemudian mengumpulkan sampel otak, hati, dan serum setelah satu, dua, empat, dan enam bulan paparan untuk menguji perubahan hormonal, resistensi insulin, sindrom metabolik, dan kerusakan pada hati dan otak.
Untuk menghasilkan THS, para ilmuwan tersebut mengekspos kain rumah tangga umum seperti tirai, sarung bantal dan kasur, dan karpet terhadap asap tangan kedua (asap yang dihembuskan dan keluar dari rokok yang terbakar) yang dihasilkan di laboratorium oleh mesin merokok yang dirancang untuk meniru perilaku para perokok.
Material-material tersebut kemudian ditempatkan di kandang yang menampung tikus, yang tidak pernah terpapar asap rokok tangan kedua. Para ilmuwan kemudian menguji 15 biomarker kerusakan dan penyakit yang terkait dengan paparan THS dalam serum dan sembilan biomarker di jaringan hati dan otak tikus dengan cara yang bergantung pada waktu.
Mereka menemukan bahwa setelah satu bulan terkena THS memberikan efek signifikan pada kesehatan, menyebabkan kerusakan pada hati dan otak, dan efek ini juga memburuk seiring berjalannya waktu.
Karena kerusakan hati bisa mengurangi kemampuan tubuh untuk mendetoksifikasi tubuh, hal ini juga bisa mengakibatkan kerusakan lebih jauh yang disebabkan oleh racun THS.
Tim turut menemukan bahwa kadar hormon stres, seperti epinefrin, juga meningkat setelah hanya satu bulan terpapar, dengan tambahan hormon stres juga terlihat pada periode dua bulan, empat bulan, dan enam bulan.
"Kami menemukan bahwa paparan THS sejak satu bulan mengakibatkan kerusakan hati. Paparan THS selama dua bulan mengakibatkan kerusakan molekuler lebih lanjut, dan pada empat sampai enam bulan menyebabkan kerusakan lebih banyak lagi. Kami juga menemukan bahwa tikus menunjukkan resistensi insulin setelah paparan THS jangka panjang," kata pemimpin peneliti Manuela Martins-Green, sekaligus profesor dan ketua Departemen Biologi Molekuler, Sel, dan Sistem University of California.
Studi sebelumnya oleh tim juga menemukan bahwa tikus yang terpapar THS menjadi kurang sosial, dan seiring berjalannya waktu, tikus-tikus tersebut kecanduan THS.
"THS adalah racun siluman, pembunuh diam-diam," kata Martins-Green, "Kontaminan dapat diserap melalui kulit dan melalui pernapasan. Meskipun penelitian kami tidak dilakukan pada manusia, orang harus sadar bahwa kamar hotel, mobil, dan rumah yang ditempati oleh perokok sangat mungkin terkontaminasi THS. "
Martins-Green menambahkan bahwa racun THS dapat tetap berada di permukaan selama bertahun-tahun dan bahkan zat pembersih yang kuat tidak dapat menyingkirkannya. Seiring waktu mereka juga menumpuk dan menua, berubah menjadi bahan kimia karsinogenik (penyebab kanker).
Anak-anak sangat rentan terhadap efek racun karena kontaknya yang dekat dengan permukaan rumah tangga, dan sering menyentuh mulut mereka dan menelan racunnya.
"Tidak sulit membayangkan dampaknya pada anak-anak yang tidak seperti kebanyakan orang dewasa, tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan yang berbahaya ini," kata Martins-Green. Dia juga menambahkan bahwa, "Meskipun pekerjaan kami dilakukan pada tikus, kami yakin hasil kami akan berlaku untuk manusia."
Martins-Green percaya bahwa asap tangan ketiga sama berbahayanya dengan asap tangan pertama dan kedua. Dia memperingatkan orang tua agar tidak menganggap merokok saat ketidakhadiran anak mereka, atau hanya merokok di luar rumah, melindungi anak-anak mereka dari efek berbahaya asap. Hal ini karena pakaian mereka menjadi media distribusi THS.
"Kemeja katun adalah bak yang mengerikan," katanya. "Orang tua pergi keluar untuk merokok, tapi kemudian merangkak ke tempat tidur dan membaca buku untuk anak mereka."


Comments
Post a Comment