Vivo wujudkan impian akan sensor sidik jari di layar
Vivo mengejutkan dunia teknologi ponsel dengan mendahului Apple dan Samsung dalam memamerkan teknologi sidik jari di panel layar. Informasi teknologi inovatif ini sudah cukup lama berkeliaran dan diprediksi kuat akan perdana diperkenalkan oleh dua jenama asal Amerika atau jenama asal Korea Selatan tersebut.
Tapi pada acara Consumer Electronics Show (CES) 2018 di Las Vegas, Amerika Serikat, Vivo mengambil langkah lebih dahulu dengan membenamkannya pada ponsel misterius berlayar 6-inci. Vivo belum mau mengungkap secara spesifik ponsel apa yang akan mengusungnya. Mereka hanya menjanjikan ponsel tersebut akan rilis awal tahun ini.
Namun berdasarkan prediksi berbagai pihak, seperti dari GizmoChina, model Vivo X20 Plus lah yang akan menjadi produk perdana.
Selama ini sensor biometrik untuk fitur pengaman ponsel sudah berkembang cukup jauh. Dari awalnya sidik jari, hingga kini ke wajah, bahkan iris mata seperti yang diaplikasikan Samsung untuk ponsel kelas atas, mulai dari Galaxy Note 7 pada tahun 2016. Namun tampaknya sensor sidik jari masih menjadi favorit para pengguna karena proses yang lebih mudah dan relatif cepat.
Namun berkembangnya teknologi yang mengarah ke layar tampilan penuh seperti Galaxy S8 dan iPhone X, memaksa para manufaktur ponsel berpikir secara kreatif dalam menempatkan sensor sidik jari. Samsung memilih memindahkannya ke bagian belakang--meski tidak nyaman penempatannya, bahkan Apple malah menghilangkannya sama sekali dan percaya diri dengan sensor wajah.
Menurut data statistik dari konsultan global Canalys, perusahaan ponsel pintar telah mendistribusikan sebanyak 22 juta ponsel berlayar penuh secara global pada kuartal kedua tahun 2017. Jumlah tersebut meningkat hingga 700.000 di kuartal pertama.
UBI Research memprediksikan bahwa tren tampilan muka ponsel minim bezel akan terus berkembang dan meningkat sebanyak 20 persen pada tahun 2017 dan akan lebih dari 50 persen pada tahun 2020.
Dalam produk yang dipamerkan di CES 2018, Vivo mewujudkan impian akan sensor di layar yang sudah didambakan itu.
Sebelumnya, perusahaan Synaptics telah meluncurkan sensor sidik jari Clear ID FS9600 dalam bentuk optik untuk ponsel pintar. Sebuah langkah yang menandai tonggak sejarah dalam teknologi sensor sidik jari.
Sensor sidik jari khusus ini disebut-sebut mampu mendeteksi sidik jari secepat 0,7 detik, dan dapat tetap berfungsi meski dalam keadaan basah, dingin, dan kering. Sensor tersebut juga tampaknya terlindungi dengan baik di bawah kaca tahan lama yang diklaim tahan terhadap air dan goresan.
Clear ID ini memiliki fitur keamanan seperti pencocokan templat sidik jari adaptif dan otentikasi, dan terintegrasi dengan enkripsi AES dan otentikasi ECC.
Produksi massal sensor sidik jari di bawah kaca dari Synaptics memulai debutnya beberapa minggu yang lalu. Synaptics mengklaim bahwa lebih dari 70 juta unit sensor sidik jari ini akan tersedia tahun ini. Perusahaan juga telah mengumumkan bahwa mereka memproduksi sensor sidik jari di bawah kaca untuk produsen ponsel pintar yang berada di posisi lima besar. Namun mereka enggan untuk menyebutkan siapakah nama perusahaannya saat itu.
Vivo memilih menyebutkan teknologi ini dengan nama In-Display Fingerprint Scanning Technology.

Dalam rilis pers resmi yang diterima Beritagar.id, Rabu (10/1), fitur ini mendukung berbagai skenario yang tidak hanya digunakan untuk membuka kunci saja tapi dapat diaktifkan ketika dibutuhkan.
Ikon grafis antarmuka akan muncul pada layar OLED ponsel Vivo di berbagai skenario yang membutuhkan otentifikasi sidik jari seperti ketika layar dalam posisi mati, saat melakukan otorisasi perangkat lunak, atau ketika melakukan proses otentikasi pembayaran transaksi mobile. Pengguna dapat menyentuh ikon sidik jari pada layar untuk membuka kunci, melakukan pembayaran, dan berbagai proses lainnya. Ketika otentifikasi sidik jari tidak dibutuhkan maka grafis tidak akan muncul dan tidak akan menggangu keseluruhan pengalaman visual pengguna.
"Kami pertama kali mempresentasikan purwarupa solusi pemindai sidik jari ini pada MWC Shanghai 2017 berdasarkan sensor ultrasonik dan telah berkomitmen untuk mewujudkan visi ini ke generasi smartphone selanjutnya," ujar Alex Feng, Senior Vice President Vivo.


Comments
Post a Comment